Kontroversi Jokowi memakai pakaian adat Batak

Jokowi itu memang “storm bringer”, apa pun yang dilakukannya selalu membuat seantero negeri (dan tak jarang negeri seberang) “geger”.
Belum selesai soal ‘kisruh’ reshuffle kabinet, baru-baru ini terjadi kehebohan lagi. Kunjungan Presiden Jokowi ke Tano Batak, dipicu busana adat Batak yg dikenakannya, langsung menuai pro dan kontra.
Ada yang mengkritik, ada yang membela. Semuanya serasa Ahli/Pakar Politik, Budaya, Ekonom, dsb. Beberapa teman meminta saya membahasnya di BatakPedia http://batakpedia.org (proyek nirlaba Ensiklopedia Budaya Batak yang saya mulai sejak 2006, sayangnya saya belum sempat :D.

jokowi_dengan_pakaian_adat_batak

Soal kritik dan pembelaan sah-sah saja menurut saya selama masih wajar, walau saya lebih memilih ikut terlibat daripada hanya sekedar kritik (kalau kritiknya benar masih lumayan :D). Kecuali orang-orang gila, berotak 2D, kaum idiot seperti Nunik dan Andi (http://waspada.co.id/…/amlp-laporkan-dugaan-penghinaan-pre…/), jelas saya ikut marah. Penghinaan berlapis: Penghinaan kepada Presiden Republik Indonesia dan Penghinaan kepada rakyat Indonesia atas budayanya, khususnya suku bangso Batak.

Pilpres sudah lama selesai, belum bisa move on juga. Orang yang patah hati aja di putus pacar aja bisa move on. La iki piye to. Saya bingung jadinya

Saya jadi ingat kalimat yang pernah diucapkan mantan presiden Amerika Serikat, John Fitzgerald Kennedy – ‘Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu’. (Kalimat tersebut sebenarnya kutipan dari filsuf Marcus Tullius Cicero, orator dan negarawan Romawi Kuno.). Meski saya tidak terlalu setuju dengan statemen tersebut, karena menurut saya wajar jika kita menuntut hak kalau sudah melaksanakan kewajiban dan diatur di UUD 1945 terutama pasal 27-34), tapi statemen ini sangat tepat menurut saya.

Dan itulah yang sampai saat ini menjadi pegangan saya. Sebelum menuntut hak, sudahkah Anda melaksanakan kewajiban?

Sementara yang lain hanya kritik dan kritik, apalagi bullying/menghina, saya lebih memilih Joko Way: kerja…kerja..kerja (#PIKA dong :D).

“Jangan pernah membenarkan kebiasaan, tetapi biasakanlah yang benar”

~Karena semua berawal dari mimpi

(SP)

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment